Inspirasi Opini

Tempat Wisata Jadi Lokasi Syuting Film, Inilah Jadinya…




Trevelsia.com – Tak terhitung sudah puluhan bahkan ratusan film yang mengambil lokasi syuting di tempat wisata. Mengambil tempat wisata sebagai latar belakang film memang menjadi daya tarik sendiri. Hal ini juga dapat mendongkrak popularitas film dan juga sebuah tempat wisata. Tidak hanya film produksi luar yang sering menampilkan berbagai tempat wisata di berbagai negara seperti Menara Eiffel di Prancis, Kastil Alnwick di inggris, Pulau Jeju di Korea Selatan, film produksi dalam negeri pun seringkali mengambil lokasi di tempat wisata, sebut saja Pantai Tanjung Tinggi yang menjadi latar belakang kisah Laskar Pelangi, perjalanan panjang mencapai puncak Mahameru dalam film 5 cm dan masih banyak lagi lagi film lain.

Foto: www.travel.kompas.com

Ingin bernostalgia seperti Rangga dan Cinta, datanglah ke Punthuk Setumbu. Foto: www.travel.kompas.com

Terakhir Kita digoda oleh film yang sudah 14 tahun ditunggu kehadirannya sehingga ketika tayang di minggu pertama antriannya panjang sekali (pengalaman penulis). Yap, pasti semua dapat menebaknya yakni film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC 2) yang hampir 80% lokasi syutingnya di Yogyakarta. Sepanjang film Kita diajak ke berbagai tempat yang eksotik dan bahkan mungkin belum pernah Kita datangi sebelumnya. Sedikit banyak apa yang ditampilkan dalam film akan berpengaruh bagi para penonton. Selain jalan cerita,  lokasi yang dipilih biasanya menjadi perhatian khusus. Lalu, apa saja yang terjadi bila sebuah tempat wisata dijadikan lokasi syuting? Trevelsia.com merangkumnya sebagai berikut:

1. Mengundang Penasaran

Ayo sapa yang pingin naik Gunung Semeru setelah nonton film 5cm?. Foto: www.irkhamzamzuri.blogspot.co.id

Ayo sapa yang pingin naik Gunung Semeru setelah nonton film 5cm?. Foto: www.irkhamzamzuri.blogspot.co.id

Berbagai rasa penasaran akan muncul setelah Kita menonton film tersebut seperti misalnya dimana lokasi tersebut berada, apa benar lokasinya sebagus yang ditampilkan dsb. Untuk menjawab rasa penasaran biasanya Kita akan langsung mencari tahu tentang film tersebut. Contohnya film 5 cm yang banyak menyita perhatian kaum muda. Cerita yang diperankan oleh Fedi Nuril dkk tentang persahabatan dan perjuangan panjang untuk menuju puncak Mahameru gunung Semeru dengan ketinggian 3676 mdpl berhasil memberikan gambaran tantangan bagaimana pengalaman mendaki gunung. Hal tersebut berpengaruh yakni dengan munculnya keinginan seseorang untuk dapat merasakan langsung pengalaman yang sama seperti yang digambarkan dalam sebuah film. Sehingga awalnya wisata gunung merupakan hal yang jarang dilakukan kecuali oleh para pecinta wisata petualangan, akan tetapi karena cerita dalam film tersebut telah mendorong banyak orang untuk mendaki gunung juga. Saat ini jenis wisata yang jarang dilakukan seperti wisata petualangan seperti mendaki gunung telah menjadi hal yang biasa dilakukan terutama oleh kaum muda. 

2. Promosi secara Tidak Langsung

Sudah pernah berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi?. Foto: 66.media.tumblr.com

Sudah pernah berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi?. Foto: 66.media.tumblr.com

Di Indonesia banyak sekali tempat wisata yang belum Kita kenal terutama letaknya yang jauh dari tempat tinggal Kita. Kita hanya mengenal kota-kota tertentu saja seperti Bali dan Yogyakarta. Dalam film Laskar Pelangi yang mengangkat kisah hidup Ical dkk (Andrea Hirata) berhasil memperkenalkan Bangka Belitung tidak hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri.  Sebelumnya tidak banyak orang tahu kalau ternyata Bangka Belitung memiliki banyak surga tersembunyi. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa sebuah film dapat mempromosikan kekayaan daerah yang dimiliki secara tidak langsung. Dalam proses pembuatan film yang menggunakan tempat wisata sebagai lokasi syuting pihak produksi akan bekerja sama dengan pemerintah daerah ataupun pengelola tempat wisata tersebut. Melalui kerjasama ini promosi wisata yang biasanya hanya dilakukan oleh pemerintah setempat ataupun pengelola wisata daerah akan sangat terbantu.

3. Meningkatnya Jumlah Wisatawan

Gereja Ayam yang mendapat berkah dari popularitas film AADC 2. Foto: www.brilio.net

Gereja Ayam yang mendapat berkah dari popularitas film AADC 2. Foto: www.brilio.net

Setelah rasa penasaran muncul, langkah selanjutnya adalah rencana untuk mengunjungi tempat wisata tersebut secara langsung. Dapat Kita lihat setelah beberapa hari film tersebut ditayangkan di Bioskop maka tempat wisata akan mengalami peningkatan kunjungan wisatawan. Seperti halnya yang terjadi pada Rumah Doa Bukit Rhema atau biasa disebut sebagai Gereja Ayam. Meskipun disebut sebagai Gereja Ayam nyatanya bangunan ini berbentuk Merpati. Gereja Ayam ini terletak di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Magelang, JawaTengah atau sekitar 45 km dari kota Yogyakarta. Bangunan yang dibangun oleh Daniel Alamsjah pada tahun 1990-an ini bukanlah tempat wisata tapi rumah tempat orang untuk berdoa. Bangunan yang menjadi saksi Cinta dan Rangga menyelesaikan kisah masa lalunya kini menjadi tempat wisata yang kian hari semakin banyak dikunjungi wisatawan sejak kemunculannya dalam film AADC 2. Bagi Kalian yang juga ingin mengunjungi Gereja Ayam ini cukup membayar Rp 10.000,- dan harus bersabar antri untuk naik sampai Mahkota.

4. Munculnya Berbagai Macam Jenis Wisatawan

Foto: www.memangbeda.net

Kalau uda rusak gini gimana mau bertahan lama? Foto: www.memangbeda.net

Meningkatnya popularitas sebuah destinasi wisata berpengaruh besar terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan juga akan memunculkan berbagai jenis wisatawan. Berbagai jenis wisatawan seperti wisatawan yang memang suka berburu tempat baru, suka menantang adrenalin di alam terbuka, hingga wisatawan yang hanya datang untuk berfoto, hanya untuk menjawab rasa penasaran, atau hanya mengikuti ajakan teman supaya ikutan hits. Cukup mengkhawatirkan apabila yang muncul lebih banyak jenis wisatawan yang membawa dampak buruk bagi kelangsungan destinasi wisata tersebut. Masih ingat dengan berita setahun lalu kebun bunga Amaryllis di Gunungkidul dan Taman Bunga Baturaden yang rusak hanya demi selfie semata. Lalu dimana tanggungjawab Kita sebagai wisatawan yang baik?

5. Nasib Tempat Wisata Selanjutnya….

Inilah yang terjadi pada Gunung Semeru setelah populernya film 5 cm. Miris!!! Foto: www.mapalaptm.com

Inilah yang terjadi pada Gunung Semeru setelah populernya film 5 cm. Miris!!! Foto: www.mapalaptm.com

Popularitas meningkat, kunjungan meningkat, pendapatan juga meningkat, lalu apa yang akan terjadi terhadap destinasi wisata tersebut? Apakah akan terus meningkat atau semakin menurun? Dalam ilmu pariwisata dikenal istilah siklus hidup destinasi yang mengacu pada buatan Butler (1980) yang terdiri dari tahap penemuan (exploration), pelibatan (involvement), pengembangan (development), konsolidasi (consolidation), stagnasi (stagnation), penurunan atau peremajaan (decline/rejuvenation).

Setiap destinasi memiliki siklus hidup yang berbeda. Yang menjadi perhatian khusus adalah apabila sebuah destinasi sudah mencapai pada titik stagnan, maka yang terjadi adalah dua hal kemungkinan yakni penurunan atau peremajaan kembali. Sebuah destinasi akan mulai ditinggalkan atau wisatawan mulai beralih destinasi lain. Perlu usaha besar untuk untuk mempertahankan posisi destinasi wisata terutama wisata alam. Wisata alam membutuhkan usaha jauh lebih besar dari destinasi wisata buatan. Alam lebih rentan rusak dan membutuhkan waktu lama untuk memperbaiki diri. Untuk itulah perlu kesadaran diri dari diri kita sendiri untuk ikut melestarikan setiap sumber daya pariwisata terutama apabila Kalian berkunjung ke destinasi wisata alam seperti gunung dan pantai. Selamat berlibur!!!!




Leave Comments

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com