Inspirasi Opini

Tantangan Pengembangan Pariwisata Indonesia

Industri pariwisata dapat dikatakan industri yang tidak akan pernah mati. Terlebih lagi pariwisata kini telah menjadi gaya hidup. Berwisata kini sudah menjadi kebutuhan utama hampir setiap orang. Tidak heran bila seluruh negara di dunia mengembangkan industri pariwisata termasuk Indonesia. Indonesia merupakan negara dimana wisatawan dapat merasakan ‘All In One Experiences’. Indonesia disebut-sebut sebagai surganya dunia. Indonesia kaya akan sumber daya dan budaya, Apa saja dapat dinikmati di sini, mulai dari naik gunung, menyelam, menyusuri goa, menikmati berbagai tarian adat dan lain sebagainya.

Menjadi negara yang kaya akan sumber daya bukan berarti tidak bersantai diri dalam menghadapi persaingan global. Dalam perkembangannnya industri pariwisata memang terus mengalami kenaikan terutama dalam hal jumlah kunjungan wisatawan dan penerimaan devisa. Di tahun 2015 tercatat sebanyak 10.406.759 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Indonesia. Jika dilihat lebih dekat sebenarnya daya saing pariwisata Indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia dalam mengembangkan industri pariwisata. Kali ini trevelsia.com memberikan pendapatnya. Apa saja tantangan yang perlu diperhatikan?

   1. Menggalakkan Pariwisata dalam Negeri

Salah satu tantangan terbesar pariwisata Indonesia adalah bagaimana menggalakkan pariwisata dalam negeri. Hal yang dihadapi yakni rendahnya wisatawan Indonesia yang berwisata dalam negeri tetapi terbalik dengan semakin banyaknya wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke destinasi di luar negeri. Berdasarkan laporan Singapore Tourism Board (STB) di tahun 2011 menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara penyumbang wisatawan tertinggi, mengalahkan China, Australia, Malaysia, dan India. Tidak hanya Singapura, tetapi Indonesia juga menjadi negara penyumbang utama kedua wisatawan ke Malaysia. Hal ini terjadi karena gencarnya negara-negara tersebut dalam melakukan promosi ke luar negeri sedangkan promosi yang dilakukan oleh Indonesia masih kalah jauh dan terkesan kurang serius.

Masyarakat kita terutama generasi muda lebih tertarik untuk mengunjungi negara lain karena ‘prestige’. Sebagai generasi muda hendaknya Kita mulai untuk merubah mindset atau pola pikir bahwa seseorang belum dikatakan berekreasi atau melakukan kegiatan wisata apabila belum mengunjungi negara lain. Hal ini dikarenakan sifat gengsi yang tinggi sudah menjamur dalam masyarakat. Banyaknya tawaran wisata murah keluar negeri juga memberikan pengaruh yang cukup besar dalam memilih tempat wisata yang akan dituju.

   2. Menekan Harga

Berbicara masalah harag sebenarnya daya saing Indonesia unggul dalam masalah harga. Hal ini menurut laporan World Economic Forum (WEF) yang menerbitkan publikasi bertajuk Travel and Tourism Competitiveness Index. Harga yang murah tidak selalu menjadi ukuran untuk dapat mendatangkan wisatawan yang banyak. Segmen pasar dengan harga yang murah juga terbatas pada wisatawan yang memburu harga murah contohnya wisatawan backpacker.  Mengandalkan harga murah mungkin memang bisa mendatangkan wisatawan dalam jumlah banyak, akan tetapi juga akan berakibat pada manajemen pariwisata seperti fasilitas dan pelayanan yang diberikan, hingga upah karyawan yang rendah.

Mungkin bagi sebagian wisatawan mancanegara kelas menengah ke atas harga yang ditawarkan di Indonesia terbilang murah sesuai dengan pengalaman wisata didapatkan oleh mereka. Akan tetapi, Banyaknya orang Indonesia yang lebih memilih untuk berkunjung ke negara lain sebenarnya banyak disebabkan harga. Kenapa? Bila Kita melihat perbandingan harga misalnya dengan 3 juta rupiah Kita sudah dapat berkeliling Singapura dan Malaysia tetapi, bila Kita berwisata dalam negeri harga 3 juta rupiah hanya dapat digunakan untuk membeli tiket pesawat menuju satu destinasi. Ini salah satu ‘PR’ bagi pemerintah Indonesia bagaimana caranya menekan harga. Di Indonesia masih belum membuka Low Cost Carrier (LCC) dan juga penerbangan langsung ke berbagai Kota di Indonesia.

   3. Menyiapkan Tuan Rumah

Sangat sayangkan bagi generasi muda Indonesia yang lebih banyak berwisata ke negara lain bahkan lebih mengenal budaya luar tetapi tidak mengenal pariwisata di negeri sendiri, padahal di Indonesia lebih banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi terutama wisata alam, budaya, dan kuliner. Oleh karena itulah, penting bagi generasi muda untuk mengenal pariwisata Indonesia tidak harus menyeluruh mengingat Indonesia merupakan negara yang besar dengan segala potensinya, setidaknya cukup mengenal potensi pariwisata yang dimiliki oleh daerah dimana kita tinggal. Hal ini dapat digunakan untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Menjadi tuan rumah berarti mampu memberikan kesan dan pelayanan yang baik kepada wisatawan sehingga wisatawan merasa senang datang dan pulang dengan membawa pengalaman yang berharga selama berwisata.

Percuma saja apabila pemerintah sudah membuat program pengembangan wisata di suatu daerah tertentu tetapi tidak menyiapkan masyarakat setempat menjadi tuan rumah. Untuk itulah penting sekali para  stakeholders yakni pemerintah, masyarakat setempat dan juga pihak swasta untuk bekerja sama dengan baik dalam mengelola pariwisata di suatu daerah. 

Leave Comments

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com