Pantai

Ingin Melihat Hutan Cemara Udang, Datanglah ke Pantai Lombang!

Siapa bilang Pulau Madura tidak punya pantai bagus. Kali ini penulis akan merekomendasikan salah satu destinasi wisata andalan bagi teman-teman yang berminat jalan-jalan mengeksplor pulau Madura. Nama pantai ini adalah Pantai Lombang yang terletak  di Kabupaten Sumenep, tepatnya di sebelah timur Sumenep, kira-kira 30km dari arah Kota Sumenep termasuk dalam Kecamatan Batang-Batang. Di pantai ini, selain deburan ombak yang cukup tenang dan pasir putih yang sangat halus, para pengunjung juga akan disuguhi dengan rimbunnya pohon Cemara Udang di sepanjang pantai. Pohon cemara udang yang tumbuh disini merupakan pohon endemic yang tidak bisa ditemukan di pantai lain. Penasaran kenapa ada banyak pohon Cemara Udang ini? Ini dia sejarahnya yang telah penulis himpun dari berbagai sumber.

Cemara Udang adalah endemi tumbuhan khas dari pantai ini, menurut sebagian besar masyarakat tumbuhan ini hanya tumbuh di Pantai Lombang dan beberapa pantai di perairan laut Tiongkok. Sejarah penyebaran pohon cemara udang di wilayah perairan Sumenep erat kaitannya dengan ekspedisi besar kekaisaran negeri Tiongkok dalam mengarungi perairan nusantara pada abad 15 yang dipimpin oleh Jenderal The Ho (Sampo Thai Kam), Jenderal Ma’huan dan Jenderal Ong Keng Hong, ketiganya juga dikenal dengan sebutan SAM PO TOA LANG yang artinya Tiga Pendekar Besar dan dalam logat Jawa kuno dikenal dengan nama Dempo Awang.

Muhibahlombang tersebut membawa kapal sebanyak 62 armada, dengan pasukan perang 27.800 orang, konon muhibah besar itu merupakan suatu pelayaran terbesar pada saat itu, banyak para negara tetangga yang merasa takjub dan khawatir. Kelihatannya memang seolah Kaisar daratan China memamerkan kekuatannya kepada negeri-negeri tetangga dan menunjukkan bahwa dirinya sebagai negara super power. Tetapi sesampainya di laut Jawa, salah satu kapal induk membentur batu karang sampai hancur, dengan kejadian tersebut Jenderal Ong Keng Hong selaku jurumudi utama meninggal dunia, kemudian semua armada dirapatkan ke pantai, maka tempat merapatnya kapal-kapal armada tersebut diabadikan dengan nama Mangkang, yang artinya wangkangnya kapal, letaknya sekitar 10km di sebelah barat kota Semarang. Karena Ong Keng Hong pemeluk agama Islam, maka dikuburkan secara Islam di daerah Gedongwatu.

Setelah selesai upacara penguburan lalu pelayaran muhibah besar tersebut dilanjutkan menuju ke pusat kerajaan Majapahit, tapi rupanya kemalangan masih tetap mengikuti mereka, kapal-kapal terbawa arus ke arah timur dan dilanda angin topan disekitar perairan Masalembu, maka sebagian banyak yang tenggelam, juga banyak yang hancur serta perlengkapannya banyak yang terdampar di pantai sekitar pulau Jawa dan Madura, seperti: Jangkarnya ada di Pati, piringnya ditemukan di pantai Kamal yang kemudian diabadikan dengan nama Ujung Piring, tiangnya ditemukan di perairan masuk Kabupaten Sumenep, itiknya banyak beterbangan di selat Kamal.

Dari kisah diatas bisa dipastikan, bahwa beberapa tumbuhan “Cemara Udang” yang ada di perairan utara Kabupaten Sumenep, merupakan hasil dari sisa-sisa bawaan prajurit-prajurit yang terdampar di perairan Sumenep ketika dalam perjalanan ekspedisi muhibah tersebut. Entah sejarah itu benar atau tidak hanya Tuhan yang tahu. :D.

Sebelum mengunjungi pantainya tidak ada salahnya belajar sejarah dulu :D. Teman-teman yang belum pernah datang ke pulau Madura jangan khawatir akan tersesat karena petunjuk arah terpampang jelas. Untuk mencapai lokasi, wisatawan dapat memanfaatkan angkutan umum, persewaan mobil, atau menyewa ojek dengan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan. Bila berdomisili di luar Pulau Madura, kita dapat mulai perjalanan dari Suarabaya menuju jembatan Suramadu untuk menyeberang ke pulau Madura. Butuh sekitar waktu perjalanan 4 jam menuju Kabupaten Sumenep (Kabupaten Sumenep ini punya 126 pulau lho….. Tertarik berkeliling? Nantikan kisah selanjutnya)  Kabupaten Sumenep merupakan Kabupaten paling timur di pulau Madura. Setelah melewati jembatan Suramadu kita akan tiba di Kabupaten Bangkalan, kemudian silahkan lanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Sampang dan juga Kabupaten Pamekasan. Sepanjang perjalanan dari kabupaten Pamekasan menuju Kabupaten kita akan disuguhi oleh ladang garam. Buat teman-teman yang belum pernah melihat secara langsung bagaimana pertanian garam itu dapat berhenti sejenak untuk melihatnya dari pinggir jalan. Tiba di Kota Sumenep kita bisa langsung menuju ke arah pantai Lombang atau menikmati indahnya kota Sumenep. Sekitar alun-alun kota Sumenep juga banyak tempat wisata sejarah dan budaya yang bisa kita kunjungi. Salah satunya adalah Majid Jami’ Kota Sumenep yang termasuk 10 masjid tertua di nusantara (baca ceria selanjutnya). Dari kota petunjuk arah menuju kesana sangat jelas terpampang.

Untuk memasuki pantai ini biaya masuknya adalah Rp 5.000 per orang. Dari pintu gerbang tempat pembelian tiket masuk masih berjarak sekitar 300m menuju antai. Sepanjang jalan banyak masyarakat sekitar yang menanam cemara udang sebagai bonsai. Wisatawan yang berminat untuk menambah koleksi bonsainya atau sekedar ingin membawa oleh-oleh  silahkan langsung ditawar saja pada pemiliknya karena banyak juga yang menjual bonsai cemara udang ini. Bagi wisatawan yang ingin bermalam di pantai ini dapat mendirikan tenda di tepi pantai, sebab belum tersedia hotel di sekitar pantai. Fasilitas penginapan yang ada, yaitu pondok-pondok alami dari kayu, biasanya hanya diperuntukkan bagi peserta paket wisata dari agen perjalanan tertentu. Apabila terpaksa harus menginap, wisatawan dapat memperoleh jasa hotel di Kota Sumenep.

Wisatawan yang membawa kendaraan pribadi tidak usah khawatir masalah keamanan karena disini tersedia lahan parkir yang luas dan dijaga oleh tukang parkir yang super :D. di pantai ini juga terdapat panggung hiburan yang bias any digunakan untuk acara pagelaran budaya pada saat-saat tertentu. Fasilitas yang lain yang ada di pantai ini adalah kamar bilas bagi para pengunjung untuk membersihkan badan setelah bermain pasir atau berenang. Jika ingin duduk-duduk santai, wisatawan dapat memanfaakan beberapa tempat duduk atau warung-warung kecil di pinggir pantai yang menjual `es degan` (kelapa muda) serta `rujak lontong` (rujak Madura).  Sayang sekali banyak warung yang tersedia tetapi hanya menyediakan menu yang sama.

Leave Comments

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com