Pantai Pulau

Gili Labak, Hidden Paradise of Madura yang Mulai Diburu

Nama Gili Labak sudah tidak asing lagi di kalangan para traveler. Pada tahu kan kalau yang namanya Gili satu ini bukan pulau yang ada di daerah Lombok sana. Gili Labak berada di Pulau Madura tepatnya di Kabupaten Sumenep. Mana tuh? Bagi yang belum pernah berkunjung ke Madura pasti bakalan bingung berada di sebelah mana sih pulau satu ini… Sini merapat Saya kasih tahu kisahnya dan fakta-fakta unik yang dimiliki oleh pulau satu ini… Dijamin ngiler muter-muter pingin kesana. hahaha……..

Gili Labak tepatnya masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sumenep. Kabupaten Sumenep ini merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura. Karena paling timur Kabupaten Sumenep sendiri memiliki 126 pulau. Kaget??? begitulah faktanya. Tidak heran kabupaten ini merupakan kabupaten yang cukup berpotensi dalam bidang pariwisata terutama wisata bahari. Dan salah satu yang sekarang mulai diburu adalah Pulau Gili Labak.  Gili Labak sendiri merupakan pulau kecil yang merupakan bagian dari Dusun Lembana, Desa Kombang RW 3 RT 5, Pulau Poteran, Kecamatan Talango. Bayangkan pulaunya kayak apa??? Satu pulau aja wilayah admistrasinya masih masuk pulau Poteran.

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Menurut sumber terpercaya dari penduduk setempat di Gili Labak terdapat 35 kepala keluarga (KK). Sedangkan jumlah penduduk yang menghuni Gililabak tak lebih dari 100 orang. Dan yang paling mengherankan, tidak ada anak usia sekolah bermain atau sekadar berlalu-lalang di pulau itu. Ternyata, anak-anak usia sekolah di Gili Labak sengaja diungsikan ke Pulau Poteran untuk mengenyam pendidikan karena di Gililabak tak ada sekolah. Katanya dulu ada sekolah tapi ditutup karena tidak ada guru yang mengajar. Bilangnya g betah di Gili Labak. Mungkin karena kanan kiri depan belakang yang dilihat laut aja kali ya..

Hampir semua masyarakat pulau Gili Labak memiliki dua rumah yakni di pulau Gili Labak sendiri dan juga di pulau Poteran. Rumah di pulau Poteran ini yang biasanya dihuni oleh anak-anak usia sekolah dan tentunya ditemani oleh orang tua mereka. karena pulau yang kecil sehingga sumur-sumur di pulau ini hanya mengeluarkan air payau yang dimanfaatkan untuk mandi. Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi masyarakat mengambil air tawar dari pulau Poteran secara bergantian dengan menggunakan perahu.

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Perahu memang menjadi transportasi utama di pualu Gili labak. selain digunakan untuk melaut perahu ini juga digunakan untuk mengangkut kebutuhan pokok masyarakat dari pulau Poteran. Di Gili Labak tidak dijumpai moda transportasi darat. Transportasi darat memang tidak dibutuhkan karena untuk berjalan dari ujung barat ke ujung timur cukup butuh waktu 7 menit. Meski kecil dan terpencil, rumah-rumah warga Gili Labak dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya. Panel surya terpasang di atas genting rumah. Warga Gililabak sudah lama memanfaatkan energi panas matahari untuk lampu penerangan dan menyalakan TV parabola.

Pulau Gili Labak juga dikenal pula dengan sebutan Pulau Tikus. Menurut legenda, Gililabak dahulu dipenuhi kawanan tikus. Tidak ada hewan darat lain di pulau itu kecuali tikus. Hingga datang seorang pemuda sakti mandraguna dari Pulau Poteran. Nama pemuda tersebut Sabu atau yang dikemudian hari mendapat julukan Ju’ Saimin. Dialah pembabat dan pembasmi tikus di Pulau Gili Labak. Sekarang, Gili Labak telah bebas dari tikus. Gili Labak menjadi tempat menyenangkan bagi warga yang menghuninya. Melaut merupakan pekerjaan utama penghuni Gililabak. Hampir semua warga Gililabak adalah nelayan penangkap rajungan. Warga Gili Labak menyebut perangkap rajungan sebagai bubu. Setiap hari nelayan Gili Labak mampu menangkap rajungan 6-15 kilogram. Rajungan hasil tangkapan nelayan lantas dijual dalam keadaan segar kepada pengepul di Gili Labak. Harga rajungan Rp 30.000 per kilogram. Bagi wisatawan yang berminat beli silahkan saja… Oh iya di Pulau Gili Labak seluruhya masyarakatnya beragama Islam dan hanya terdapat 1 masjid yang dibangun oleh KH. Busyro Karim yakni Bupati yang menjabat sejak 2010 hingga 2015.

Rajungan, hasil laut Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Rajungan, hasil laut Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Aduh faktanya banyak banget ya. Tapi fakta yang paling the best ever adalah pemandangan yang ada disini surga banget. Kayak yang tahu surga aja ya. Tapi beneran dech pemandangan lautnya, pasir putihnya, jernihnya air lautnya pokoknya uda tidak dapat dipungkiri. TOP bgtz dah!!! Nyesel kalau seumur hidup belum pernah kesini. Ini pulau keindahannya gak kalah ama pulau-pulau di Indonesia yang lebih dulu hitz. Pecinta snorkling ini tempat beneran surganya dah. Jadi siapkan ongkos untuk berangkat kesini. Ini Saya kasih sedikit petunjuk arah bagi kalian yang pingin kesana. Kita mulai perjalanan ini dari Surabaya ya. Dari surabaya arahkan kendaraan kalian ke arah Kenjeran untuk menuju jembatan Suramadu. Melewati jembatan Suramadu kalian akan tiba di Kabupaten Bangkalan. Keluar dari jembatan Suramadu sampai di pertigaan besar lampu merah belok kanan untuk melanjutkan perjalanan ke arah Kabupaten Sampang, dan teruskan perjalanan menuju Kabupaten Pamekasan, dari sini masih lanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Sumenep. Tiba di Kabupaten Sumenep kita masih harus terus menuju Pelabuhan Kalianget. Jangan khawatir nyasar karena sepanjang perjalanan banyak petunjuk arah yang dapat dijadikan patokan. Tiba di Pelabuhan Kalianget ini perjalanan laut kalian akan dimulai.

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Ada dua alternatif yang dapat kalian ambil, yang pertama kalian bisa langsung menyeberang dari pelabuhan Kalianget menuju Gili Labak menggunakan perahu nelayan yang biasa disewakan. Satu perahu ini bisa memuat 10 orang. Jadi biar hemat lebih baik sewanya rombongan ya. Alternatif kedua yakni kalian bisa menyeberang dulu ke Pulau Poteran kemudian dari pulau Poteran kalian menyeberang lagi menuju pulau Gili Labak. Lama perjalanan hampir sama yakni sekitar 2 jam perjalanan. Tips untuk kalian supaya jangan berkunjung pas musim ombak yakni sekitar bulan Juli-Agustus dan Desember-Januari. Arus laut pada bulan-bulan itu bener-bener kenceng. Gak mau kan terombang-ambing di lautan gelora. Ups…

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Pulau Gili Labak. Foto: DisbudParpora Kab Sumenep

Sebagai traveler yang baik Saya cuma mengingatkan supaya setiap kali kita mengunjungi tempat wisata jangan lupa untuk menjaga lingkungan terutama wisata alam. Kita harus menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan. Apa yang uda Tuhan ciptakan untuk kita supaya bukan hanya kita saja yang dapat menikmatinya tapi juga dapat dinikmati oleh generasi mendatang… SEE YOU THERE….

Leave Comments

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com